Nuansapendidikan, Ciamis — Setiap Jumat, SMPN 1 Ciamis menjalankan agenda yang membuat suasana sekolah bergerak dengan ritme yang khas.
Adi Nurhuda, S.Pd., salah satu pembimbing kegiatan, menjelaskan seluruh rangkaian rutinitas dengan rinci.
“Minggu pertama kami fokus pada BTQ. Lalu, Minggu kedua anak-anak bergerak lewat olahraga dan kebersihan. Minggu ketiga kami gelar Yasinan dan Salat Dhuha berjamaah. Dan Minggu keempat kembali ke olahraga dan kebersihan,” ujar Adi. Jum’at, (21/11/2025).
Ia memulai penjelasan dari kegiatan minggu ketiga yang selalu menyedot perhatian.
Sebelum pukul 07.00, siswa berkumpul di lapangan.
Guru pembimbing memandu salat Dhuha, lalu siswa melanjutkan dengan membaca Yasin bersama.
Setelah itu, mereka mengikuti doa berjamaah.
Adi menegaskan nilai spiritual dari kebersamaan tersebut.
“Empat puluh orang yang memanjatkan doa itu seperti amaliyah satu wali. Doa bersama itu menguatkan hati dan pikiran mereka,” tegasnya.
Setelah Yasinan, Jumat pekan ketiga selalu ditutup dengan evaluasi ringan sekaligus permainan edukatif yang menghidupkan suasana.
Rutinitas harian juga berjalan melengkapi kegiatan besar itu seperti tadarus pagi selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
Adi menyebut kegiatan itu bukan sekadar tradisi, tetapi strategi sekolah untuk memperkuat fondasi keagamaan siswa.
“Kami ingin anak-anak punya bekal moral yang kokoh. Kalau fondasinya kuat, mereka lebih siap menghadapi kehidupan,” tambahnya.
Keputrian Menjadi Ruang Belajar Khusus bagi Para Siswi
Ketika siswa laki-laki menuju masjid untuk Salat Jumat, para siswi mengikuti kegiatan Keputrian, yang dipandu oleh Rica Rosita, S.Pd. dan Ai Widianigsih, S.Pd..
Dua pembimbing perempuan ini menggarap program Keputrian dengan pendekatan yang inklusif dan relevan.
Rica menjelaskan bahwa Keputrian tidak sekadar pengisi waktu, tetapi ruang pendidikan khusus bagi para siswi.
“Kami membahas fikih wanita, masa balig, cara menjaga diri, dan etika pergaulan. Semua materi kami sajikan dengan bahasa yang mudah dipahami,” kata Rica.
Ai kemudian menambahkan bagaimana Keputrian berkembang menjadi solusi dari kebutuhan sekolah.
“Saat anak laki-laki menjalankan Salat Jumat, siswi membutuhkan ruang aman untuk belajar hal yang bermanfaat. Dari situ Keputrian terbentuk dan terus berkembang,” ungkap Ai.
Materi Keputrian berjalan inklusif sehingga siswi nonmuslim tetap merasa mendapatkan manfaat.
Ai memastikan kegiatan itu tidak menggurui satu keyakinan, melainkan memberi wawasan yang relevan bagi semua peserta.
“Kami bicara soal tubuh, kesehatan, etika, ilmu, bukan hanya fikih. Semua dapat porsi belajar,” jelasnya.
Kegiatan Keputrian juga memegang peran penting di tengah upaya Kabupaten Ciamis mempertahankan predikat daerah layak anak.
Rica menegaskan bahwa sekolah ikut menjaga keamanan dan pendidikan karakter remaja perempuan.
“Kami ingin mereka tumbuh lebih percaya diri, punya pengetahuan, dan punya batas yang sehat dalam pergaulan,” ujarnya.
Sekolah yang Terbuka untuk Berbagi
Keunikan rutinitas Jumat SMPN 1 Ciamis menarik perhatian sekolah lain, bahkan hingga dari luar Jawa Barat.
Mereka datang untuk belajar langsung bagaimana sekolah mengelola kegiatan yang rapi dan berdampak.
Kepala SMPN 1 Ciamis, Asep Surur, membuka pintu dengan lapang.
“Kalau ada sekolah yang tertarik meniru atau belajar dari rutinitas kami, silakan datang. Kami siap berbagi pengetahuan dan pengalaman,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan Jumat tidak hanya memperkuat tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi contoh praktik baik yang bisa menginspirasi sekolah lain.





















Komentar