Bandung, Nuansa Pendidikan – Dosen Pascasarjana ISBI Bandung Dr. Endah Irawan, M.Hum. mendorong pembaruan besar dalam dunia karawitan melalui rekayasa organologi alat musik Sunda. Upaya ini dilakukan untuk menjawab ancaman stagnasi bahkan kemunduran seni tradisi akibat minimnya inovasi dan berkurangnya ragam kesenian Sunda di tengah masyarakat modern.
Menurut Endah, rekayasa organologi bukan sekadar modifikasi bentuk alat musik, melainkan kerja ilmiah untuk menghadirkan sistem instrumen baru yang mampu memperluas kemungkinan musikal dalam karawitan Sunda. Melalui pendekatan tersebut, ia bersama tim peneliti mengembangkan keluarga instrumen baru berbasis tradisi, mulai dari alat gesek, alat tiup, hingga instrumen perkusi.
“Kalau seni tradisi hanya dipertahankan tanpa pengembangan, lama-lama akan kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman. Tradisi harus dijaga, tetapi juga harus diberi ruang untuk berkembang,” kata Endah dalam keterangan risetnya.
Ia menjelaskan, banyak sistem alat musik Sunda tradisional selama ini belum memiliki struktur keluarga instrumen yang lengkap seperti musik Barat. Akibatnya, ruang eksplorasi komposisi, harmoni, register bunyi, dan orkestrasi menjadi terbatas. Kondisi tersebut dinilai menghambat lahirnya karya musikal berskala besar dari tradisi Sunda.
Berangkat dari persoalan itu, Endah mengembangkan berbagai instrumen baru seperti Angklung Ragam Laras 15 Nada, keluarga rebab Pamurba, keluarga tarawangsa Ngekngek, pengembangan tarompet Torotot, hingga instrumen eksperimental Kolodetikol. Seluruhnya dirancang untuk memperluas spektrum nada, karakter bunyi, serta fleksibilitas aransemen musik Sunda modern.
Namun, proyek ini tidak berhenti pada penciptaan instrumen semata. Endah menilai rekayasa organologi merupakan bagian dari strategi besar pemajuan kebudayaan, terutama ketika banyak kesenian lokal mulai kehilangan panggung akibat perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat. Ia mengutip pandangan sejumlah budayawan bahwa ratusan bentuk kesenian Sunda yang pernah hidup kini sebagian besar tidak lagi aktif.
Di sisi lain, Endah menegaskan inovasi budaya sering kali terhambat bukan oleh keterbatasan gagasan, melainkan minimnya dukungan kelembagaan. Menurut dia, karya-karya rekayasa seni pertunjukan masih kerap berhenti pada level riset kampus dan belum memperoleh ruang pengembangan serius sebagai produk budaya strategis.
“Pertanyaannya sederhana, untuk apa ada perguruan tinggi seni, sarjana seni, magister, doktor, bahkan profesor seni, jika tidak melahirkan karya baru yang relevan bagi perkembangan kebudayaan?” ujarnya.
Ia berharap pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri budaya mulai memandang inovasi seni tradisi sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, pengembangan instrumen baru tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga dapat menciptakan ekosistem ekonomi baru bagi pengrajin, pelatih, pemain musik, hingga industri pertunjukan.
Sebagai langkah lanjutan, Endah menargetkan seluruh instrumen hasil rekayasanya dapat terintegrasi dalam satu format pertunjukan ensemble besar musik Sunda modern. Konsep itu diyakini dapat membuka babak baru dalam sejarah musik tradisi Sunda—dari sekadar warisan budaya yang dipertahankan, menjadi sistem seni pertunjukan hidup yang terus berkembang dan kompetitif di tingkat global.
Sumber: Wawancara/Publikasi Dr. Endah Irawan, M.Hum., ISBI Bandung
















Komentar