Tasikmalaya || Nuansa Pendidikan – Persoalan sampah terus menjadi tantangan lingkungan yang membutuhkan solusi inovatif dan berkelanjutan. Menjawab persoalan tersebut, tim peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik menjadi bioleather, material menyerupai kulit sintetis yang lebih ramah lingkungan.
Inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk berbasis green product, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membekali siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan keterampilan berwawasan lingkungan atau vocational green skills yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.
Ketua Tim Peneliti sekaligus Dosen Program Studi S1 Desain Produk Industri UPI Kampus Tasikmalaya, Dr. Cucu Sutianah, S.Pd., M.Pd., M.CE., mengatakan bioleather dikembangkan dengan memanfaatkan beragam limbah organik yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
“Bahan yang kami olah antara lain kulit jeruk, kulit pisang, pelepah pisang, jerami, suwiran nata de coco, rumput laut, hingga residu daun nanas. Bahan-bahan ini kemudian dicampur dengan alginat dan bahan pengikat lainnya hingga menghasilkan komposit berbentuk lembaran yang menyerupai kulit asli,” ujar Cucu saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (2/9/2026).
Setelah melalui proses produksi, lembaran bioleather tidak langsung digunakan. Material tersebut terlebih dahulu menjalani sejumlah pengujian, di antaranya uji visualisasi, uji tarik, dan uji durabilitas untuk mengetahui karakteristik serta daya tahan material.
Hasil pengembangan tersebut kemudian diaplikasikan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi. Beberapa di antaranya berupa gantungan kunci, dompet, tempat ponsel, ID card, sampul buku, hingga tas. Sejumlah produk juga dipadukan dengan teknik ecoprint sehingga memiliki nilai estetika sekaligus memperkuat karakter produk ramah lingkungan.
Kolaborasi Akademisi, Industri dan SMK
Pengembangan bioleather tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat berbasis kepakaran ilmu dengan pendekatan kolaboratif atau pentahelix yang melibatkan unsur akademisi, pemerintah, industri, dan media.
Dalam pelaksanaannya, UPI Kampus Tasikmalaya menggandeng PT Musa Biomassa Natura, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sebagai mitra industri yang berperan dalam penyediaan teknologi serta pendampingan pengolahan biomaterial.
Sementara untuk memperkuat aspek pendidikan dan penerapan hasil inovasi dalam pembelajaran vokasi, UPI Tasikmalaya bekerja sama dengan SMKN 3 Tasikmalaya, khususnya Program Keahlian Kriya Kulit.
Kerja sama tersebut bukan hal baru. Kolaborasi UPI Tasikmalaya dan SMKN 3 Tasikmalaya telah dirintis sejak 2022 di bawah naungan Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII Tasikmalaya.
Menurut Cucu, keterlibatan dunia industri menjadi penting agar pembelajaran di SMK dapat terus diselaraskan dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja, khususnya terkait kompetensi hijau.
“Industri butuh akademisi, dan kami di perguruan tinggi juga membutuhkan mitra industri. Kerja sama ini penting untuk menyelaraskan pembelajaran di SMK agar mengarah pada green job skill, green entrepreneur, dan green curriculum,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya diajarkan keterampilan teknis dalam mengolah material, tetapi juga diperkenalkan pada konsep pemanfaatan limbah, inovasi produk, kewirausahaan hijau, hingga peluang pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
Tantangan Integrasi Pembelajaran dan Komersialisasi
Meski menawarkan potensi besar, pelaksanaan program di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah penyelarasan alokasi waktu pembelajaran di SMK, integrasi materi bioleather dengan mata pelajaran lain, serta pengembangan strategi komersialisasi agar produk yang dihasilkan memiliki nilai jual dan mampu bertahan secara berkelanjutan di pasar.
Karena itu, pengembangan bioleather tidak berhenti pada tahap menghasilkan prototipe. Tim peneliti juga terus mendorong agar inovasi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki kualitas, desain, serta nilai ekonomi yang kompetitif.
Perluas Riset ke Sampah Laut
Ke depan, tim peneliti UPI Kampus Tasikmalaya berencana memperluas cakupan penelitian dengan mengembangkan pemanfaatan sampah laut sebagai bagian dari bahan biomaterial.
Rencana tersebut bahkan telah dikonsultasikan dengan tokoh kelautan asal Pangandaran, Susi Pudjiastuti, sebagai bagian dari upaya memperkaya perspektif dan peluang pengembangan riset terkait persoalan sampah di wilayah pesisir dan laut.
Program riset yang sepenuhnya didanai melalui pendanaan internal UPI tersebut ditargetkan menghasilkan sejumlah luaran akademik dan kekayaan intelektual, mulai dari artikel ilmiah, hak desain industri, hingga hak paten.
Dalam jangka panjang, hasil penelitian diharapkan dapat terus ditingkatkan hingga mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) yang memungkinkan inovasi tersebut dikembangkan dan dikomersialkan secara mandiri oleh UPI sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
Sampah Jadi Persoalan, Inovasi Jadi Jawaban
Cucu menilai persoalan sampah saat ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional. Perubahan pola konsumsi masyarakat membuat jenis sampah yang dihasilkan semakin didominasi material yang sulit terurai.
“Permasalahan utama kita saat ini adalah sampah. Dulu sampah bekas pembungkus makanan dari daun atau bambu bisa terurai alami, sedangkan sekarang didominasi plastik dan limbah yang sulit terurai. Mengolah sampah adalah salah satu pekerjaan masa depan yang membutuhkan aksi nyata bersama,” pungkasnya.
Program pengabdian masyarakat tersebut juga melibatkan sejumlah akademisi UPI lainnya, yakni R. Moch. Rizal Hafiyan, S.Pd., M.Ds., Meita Annisa Nurhutami, S.S., M.B.A., Handayani Madania Insani, S.Ds., M.Ds., dan Alfian Azhar Yamin, S.Pd., M.Pd.
Melalui inovasi bioleather, UPI Tasikmalaya berupaya mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: menjawab persoalan lingkungan, memperkuat pendidikan vokasi, dan menciptakan peluang ekonomi baru berbasis produk ramah lingkungan.
Langkah tersebut menjadi contoh bahwa sampah organik tidak selalu harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diubah menjadi material bernilai tambah sekaligus menjadi sarana pembelajaran untuk menyiapkan generasi muda menghadapi tuntutan dunia kerja yang semakin berorientasi pada keberlanjutan.
Reporter : AKA
Editor : Redaksi















Komentar