Dari Tinggal di Masjid hingga Menjadi Komisaris PT Pupuk Indonesia

Kisah Irfan Ahmad Fauzi

Bandung, Nuansa Pendidikan – Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dipenuhi suasana haru dan kebanggaan. Ruangan besar itu menjadi saksi 1.793 wisudawan yang mengenakan toga, sementara para orang tua duduk di tribun tamu dengan penuh harap, menanti momen ketika nama anak mereka dipanggil menuju podium, seraya terus mengirimkan doa dan asa terbaik. Di tengah kemegahan prosesi Wisuda Gelombang II Tahun 2026, seorang figur tampak duduk di atas podium, memandang barisan wajah muda yang akan segera memulai lembaran baru dalam hidup mereka.  Minggu pagi, 10 Mei 2026.

Sosok itu adalah Irfan Ahmad Fauzi, M.Hum., seorang alumni Pendidikan Sejarah UPI angkatan 2007 yang kini menjabat sebagai Komisaris Independen di PT Pupuk Indonesia. Bagi Irfan, berdiri di depan para wisudawan bukan sekadar sebuah kehormatan, melainkan bagian dari perjalanan yang sulit ia bayangkan sebelumnya. Sebagai alumni, saya tak pernah berpikir suatu hari akan kembali ke tempat ini untuk memberikan sambutan di hadapan wisudawan,” ungkapnya.

Pernyataan sederhana itu ternyata menyimpan kisah panjang di baliknya. Sebelum mengenakan jas formal dan menduduki posisi strategis di salah satu perusahaan BUMN, Irfan sempat menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan, jauh dari gemerlap dunia korporasi. Saat masih berkuliah, ia tinggal di sebuah masjid dekat kampus demi menekan biaya hidup. Irfan tidak segan membersihkan toilet masjid, berjualan untuk menambah pemasukan, dan melewati hari-harinya dengan perjuangan yang sering kali berat.

Dari ruang sederhana itulah cara pandangnya mulai terbentuk. Ia terbiasa melihat peluang di tengah tantangan dan kesulitan yang dihadapi. Dalam pidato sambutannya, Irfan banyak berbagi pandangan tentang pentingnya pola pikir—bagaimana seseorang memandang kehidupan. Menurutnya, titik awal perubahan bukanlah kondisi eksternal, melainkan pola pikir yang dimiliki seseorang.

“Jika hidup masih terasa sulit, atau masih susah mendapatkan pekerjaan, mulailah dengan mengubah cara berpikir. Itulah kuncinya, pesannya kepada para wisudawan. Irfan mengakui bahwa selama masa kuliah di UPI, ia memilih untuk tidak berfokus pada sisi kelam kehidupan. Saya lebih memilih melihat sisi positif, sisi peluang, ujarnya.

Pola pikir itulah yang kemudian menjadi landasan perjalanan hidupnya. Meskipun berasal dari kondisi ekonomi yang terbatas, Irfan tidak hanya mampu bertahan, tapi juga tumbuh dan berkembang. Sejak masa kuliah, insting bisnisnya perlahan mulai terasah. Ia belajar memahami kebutuhan pasar, menjalin hubungan dengan berbagai pihak, serta memanfaatkan peluang dari situasi yang ada.

“Di setiap krisis, selalu ada peluang. Di setiap tantangan, selalu ada kesempatan untuk berkembang,” ungkapnya. Namun, ia menegaskan bahwa perjalanan hidupnya tidak dibangun seorang diri. Saat menempuh pendidikan di UPI, Irfan aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa. Ia pernah dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa BEM REMA UPI pada tahun 2010. Di tahun yang sama, ia juga menjabat sebagai Koordinator Wilayah Jawa Barat untuk BEM Seluruh Indonesia (BEM SI). Dunia organisasi inilah yang memberikan pengalaman berharga bagi Irfan dalam memimpin, membangun soliditas tim, dan memahami berbagai karakter manusia.

Pengalaman organisasi tersebut diakuinya sebagai bekal yang terus ia terapkan hingga saat ini. Saya belajar membangun tim dan menjaga soliditas sejak di kampus. Itu menjadi dasar untuk membangun bisnis saya saat ini. Karena sejatinya, bisnis adalah sebuah bentuk organisasi, tidak jauh berbeda dengan pengalaman saya di dunia kampus,” jelasnya.

Setelah meraih gelar S1 di UPI pada tahun 2012, Irfan melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister Humaniora di Universitas Padjadjaran dan berhasil lulus pada tahun 2017. Kariernya terus melesat melintasi berbagai sektor—mulai dari menjadi dosen, direktur utama perusahaan swasta, hingga menduduki posisi strategis di lingkungan BUMN.

Sebelum ditunjuk sebagai Komisaris Independen di PT Pupuk Indonesia, Irfan telah menjalankan berbagai peran penting di PT Pupuk Iskandar Muda—termasuk sebagai Komisaris Independen dan Ketua Komite Audit.

Kini, Irfan memimpin sebuah tim yang terdiri dari puluhan karyawan. Namun, meski telah mencapai banyak hal, ia tetap meyakini bahwa kesuksesan sejati bukanlah sekadar soal jabatan atau materi. Menurutnya, hubungan antar manusia adalah harta yang paling berharga. Dia berpendapat bahwa teman-teman berkualitas, yang memiliki kelebihan bahkan melebihi dirinya, dapat memberikan dorongan untuk terus berkembang bersama.

Di luar lingkup korporasi, Irfan tetap aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi sosial dan masyarakat. Ia saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Ummat Islam (PUI), Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO), serta Sekretaris Jenderal IKA UPI Komisariat Jakarta.

Bagi Irfan, ilmu serta pengalaman tidak selayaknya berhenti pada pencapaian individu. Ia percaya bahwa keduanya harus terus disalurkan guna memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Di hadapan para wisudawan, ia mengajak generasi muda untuk berkontribusi dalam membangun bangsa sesuai dengan kompetensi dan ilmu yang dimiliki. Di akhir sambutannya, suasana Gymnasium sempat dipenuhi keheningan. Ribuan wisudawan terdiam, mendengarkan dengan penuh perhatian—mungkin banyak di antara mereka yang terinspirasi oleh cerita perjuangan yang ia bagi.

Karena perjalanan hidup Irfan bukanlah tentang keberuntungan yang datang begitu saja. Itu adalah kisah tentang ketangguhan menghadapi kesulitan, membentuk pola pikir yang tepat, serta terus melangkah maju meskipun situasi tidak selalu berpihak. Dari lorong-lorong masjid kampus hingga ruang rapat dalam perusahaan milik negara, Irfan Ahmad Fauzi telah menunjukkan satu pelajaran penting: bahwa masa depan sering kali muncul bukan dari kemudahan semata, melainkan dari keberanian untuk menemukan harapan di tengah berbagai keterbatasan.

 

Sumber : Humas UPI

Editor : Redaksi

 

banner 336x280

Komentar