12 Peserta PPI UPI Resmi Jadi Insinyur, Siap Hadapi Tantangan Keinsinyuran

PPI UPI Siapkan Insinyur Profesional

 

 

Bandung || Nuansa Pendidikan – Sebanyak 12 peserta Program Studi Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi menyandang profesi insinyur setelah mengikuti Sidang Terbuka Angkat Sumpah Profesi Insinyur Angkatan Kedua, Rabu (16/9/2026).

Pengangkatan sumpah tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendidikan profesi untuk menyiapkan insinyur yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami etika, tanggung jawab, keselamatan kerja, serta perkembangan teknologi.

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Barat, Ir. Tulus Martua Sihombing, S.T., M.T., CPFF., mengatakan Indonesia masih membutuhkan lebih banyak tenaga insinyur untuk mendukung pembangunan nasional.

Ia menyampaikan, berdasarkan data yang dipaparkannya, rasio insinyur di Indonesia sekitar 2.671 orang per satu juta penduduk. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan Rusia yang sekitar 9.000 dan Korea Selatan sekitar 24.000 insinyur per satu juta penduduk.

Menurut Tulus, kebutuhan tersebut bukan hanya menyangkut jumlah, tetapi juga kualitas dan profesionalisme. Insinyur dituntut mampu menghadapi berbagai persoalan teknik yang semakin kompleks, termasuk dalam bidang pembangunan infrastruktur, industrialisasi, digitalisasi, transisi energi, dan keberlanjutan.

Karena itu, 12 peserta PPI UPI yang telah mengucapkan sumpah profesi diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas keinsinyuran di Indonesia.

Pendidikan Berbasis Praktik

Kepala Program Studi PPI FPTI UPI, Dr. Ir. Elih Mulyana, M.Si., IPU, menjelaskan bahwa pendidikan profesi insinyur di UPI dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan praktik sesuai bidang keinsinyuran.

Selain kompetensi teknis, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai profesionalisme, kode etik, keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), aspek hukum, serta literasi teknologi.

Pembelajaran dilakukan secara hybrid untuk materi teori, sedangkan praktik keinsinyuran dilaksanakan di lapangan selama enam bulan. Setelah itu, peserta menyelesaikan studi kasus, menyusun laporan, mengikuti seminar, dan menjalani ujian.

Menurut Elih, pengalaman praktik menjadi bagian penting agar peserta mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di dunia kerja.

Peserta PPI Terus Bertambah

PPI UPI juga membuka kesempatan bagi para tenaga profesional yang telah bekerja melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Program reguler dapat ditempuh selama dua semester, sedangkan peserta melalui jalur RPL dapat menyelesaikannya dalam satu semester sesuai ketentuan yang berlaku.

Pada angkatan pertama, PPI UPI meluluskan enam peserta. Jumlah tersebut meningkat menjadi 12 peserta pada angkatan kedua.

Ke depan, PPI UPI akan memperluas jangkauan program melalui promosi yang lebih luas, memperbanyak tempat praktik melalui kerja sama dengan industri, serta memperkuat hubungan dengan alumni.

Upaya tersebut diharapkan semakin memperkuat pendidikan profesi insinyur di UPI sekaligus mendukung kebutuhan Indonesia terhadap tenaga insinyur yang kompeten, profesional, berintegritas, dan mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan pembangunan.

Bagi PPI UPI, pendidikan profesi tidak hanya menjadi tahap untuk memperoleh gelar profesi insinyur, tetapi juga menjadi proses pembentukan kompetensi dan tanggung jawab profesional dalam menjalankan tugas keinsinyuran.

 

Sumber : Humas UPI

Editor : Redaksi NP

banner 336x280

Komentar