Wamen Atip Resmikan Hasil Revitalisasi 28 Satuan Pendidikan SMA se-Provinsi D.I. Yogyakarta

Resmikan Hasil Revitalisasi 28 Satuan Pendidikan SMA se-Provinsi D.I. Yogyakarta

Yogyakarta,Nuansa Pendidikan – Pemerintah terus berupaya menghadirkan pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat melalui berbagai inisiatif. Salah satu langkah strategis yang ditempuh oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) adalah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Program ini menjadi prioritas utama dalam mendukung visi *Pendidikan Bermutu untuk Semua*. Wujud nyata komitmen tersebut terlihat dengan selesainya revitalisasi 28 sekolah menengah atas (SMA) di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang berhasil dirampungkan secara penuh.

Peresmian hasil revitalisasi ini digelar secara resmi oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat. Acara tersebut berlangsung di SMA Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, pada Sabtu (31/1) dengan peserta yang antusias menyaksikan tonggak pencapaian penting ini.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Atip Latipulhayat menyampaikan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan bukan sekadar perbaikan sarana fisik, tetapi bertujuan untuk membawa perubahan signifikan pada kualitas pembelajaran. Ia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur yang layak hanyalah salah satu aspek dari revitalisasi. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat sekolah dalam memberikan pengalaman belajar terbaik bagi siswa.

Menurut Wamen Atip, penggunaan istilah revitalisasi mencerminkan pendekatan yang lebih menyeluruh. “Bukan hanya soal membangun, tapi bagaimana pembelajaran di dalamnya benar-benar meningkat. Dengan kata lain, kita ingin memastikan bahwa sekolah tidak hanya dipugar secara fisik, tapi juga mampu berfungsi sebagai tempat yang benar-benar hidup dan menghadirkan pengalaman belajar berkualitas,” jelasnya. Dengan langkah penting ini, pemerintah berharap revitalisasi yang telah dilakukan dapat membawa perubahan nyata dan menjadi inspirasi bagi upaya pendidikan di wilayah lainnya.

Revitalisasi satuan pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai perbaikan fisik semata, tetapi juga sebagai upaya membangun ekosistem pembelajaran yang lebih baik. Melalui peningkatan sarana dan prasarana, diharapkan sekolah dapat menjadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pengembangan potensi siswa secara optimal.

Penerapan skema swakelola dalam pelaksanaan program revitalisasi ini dinilai lebih efisien karena mampu menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab di kalangan pihak sekolah terhadap hasil pembangunan. Hal ini juga sekaligus memastikan kualitas pekerjaan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta, Suhirman, menyampaikan bahwa sebanyak 28 satuan pendidikan tingkat SMA di wilayah DIY telah menerima bantuan revitalisasi dengan total anggaran sebesar Rp19,97 miliar. Semua proyek revitalisasi ini berhasil diselesaikan tepat waktu. Suhirman menjelaskan bahwa program revitalisasi di Yogyakarta tercapai seratus persen sesuai jadwal, baik dari segi laporan fisik maupun administrasi.

Ia juga menekankan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai merupakan faktor penting untuk menunjang peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Dengan fasilitas pendukung yang semakin baik, Suhirman berharap mutu pendidikan di Yogyakarta akan terus meningkat, seiring dengan berbagai prestasi yang diraih oleh sekolah-sekolah di wilayah tersebut.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Ali Maksum Krapyak, Khoirul Fuad, yang menjadi tuan rumah peresmian program, menyampaikan bahwa revitalisasi ini memberikan dampak nyata bagi sekolahnya. Perbaikan yang diterima termasuk pembangunan empat ruang kelas baru lengkap dengan perabot kelas, dengan total anggaran sebesar Rp1.356.834.000. Ia mengungkapkan rasa syukur atas manfaat besar dari program ini dan berharap revitalisasi tersebut akan mempercepat kemajuan pendidikan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Khoirul juga menambahkan bahwa penambahan ruang kelas memberikan pengaruh langsung terhadap peningkatan kualitas proses belajar-mengajar di sekolah. Dengan adanya kelas baru ini, siswa yang sebelumnya belajar di ruang terbuka kini bisa menikmati fasilitas belajar yang lebih layak. Suasana belajar yang lebih nyaman dan kondusif membuat siswa dapat berkonsentrasi lebih baik dalam mengikuti pelajaran.

Guru dan siswa merasakan perubahan positif berkat program revitalisasi satuan pendidikan yang nyata dampaknya. Ika Setiawati, guru di SMA Ali Maksum Krapyak, mengungkapkan bahwa penambahan ruang kelas dari revitalisasi telah meningkatkan kenyamanan dan ketenangan selama proses pembelajaran. Sekolah pun berkomitmen memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menunjang kualitas pendidikan. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas adanya program revitalisasi ini, yang memungkinkan pembelajaran menjadi lebih nyaman, tenang, dan fokus.

Di SMA Negeri 5 Yogyakarta, Kepala Sekolah Siti Hajarwati menceritakan transformasi sarana dan prasarana yang signifikan setelah revitalisasi. Menurutnya, ruangan kelas kini lebih terang, aman, dan nyaman, sehingga membantu siswa belajar dengan lebih fokus. Roig, guru dari SMA Muhammadiyah Boarding School Sleman, menjelaskan bahwa revitalisasi berupa pembangunan laboratorium fisika, laboratorium kimia, dan ruang bimbingan konseling memberikan dampak besar terhadap pembelajaran. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan laboratorium baru telah meningkatkan kualitas pembelajaran sains secara keseluruhan, memungkinkan siswa untuk lebih maksimal dalam praktik sehingga diharapkan prestasi mereka turut meningkat.

Thomas, Kepala SMA Stella Duce Bambanglipuro Bantul, menilai revitalisasi sangat berarti bagi sekolah yang memiliki keterbatasan sumber daya. Pemanfaatan skema swakelola dinilai efektif dalam memprioritaskan kualitas pembangunan serta efisiensi anggaran. Menurutnya, kondisi laboratorium sebelumnya yang rusak berat telah sukses diperbaiki, menghasilkan gedung kokoh, bersih, aman, dan mendukung kegiatan belajar mengajar dengan optimal.

Program ini juga membawa manfaat langsung bagi siswa SMA Ali Maksum Krapyak. Nufaisah, siswa kelas XI IPS 2, mengakui perubahan suasana belajar menjadi lebih nyaman setelah kelas direnovasi, karena sebelumnya ruangan terasa padat dan kurang kondusif untuk fokus. Sementara itu, Gathan Asnanto dari kelas XI IPA 1 menyebut bahwa suasana kelas kini jauh lebih rapi, terang, dan nyaman setelah renovasi, menjadikan pengalaman belajarnya lebih menyenangkan sekaligus meningkatkan konsentrasi.

 

Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 81/sipers/A6/I/2026

Jurnalis: Destya

Editor : Redaksi