Jakarta,Nuansa Pendidikan – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat penerapan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) sebagai langkah menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Tantangan tersebut mencakup isu-isu seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga masalah sosial yang semakin kompleks. Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak hanya sekadar berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga berfokus pada pengembangan kesadaran, karakter, dan kemampuan peserta didik untuk berkontribusi dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, memaparkan penerapan konsep ESD di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, ESD dipahami bukan sebagai mata pelajaran terpisah, melainkan sebagai sudut pandang yang terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran. Penjelasan tersebut disampaikan Toni dalam acara di Jakarta pada Senin, 14 Juni.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya merupakan isu lingkungan semata, tetapi juga menjadi tantangan dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus mampu membekali generasi muda dengan pengetahuan, kesadaran, serta keterampilan untuk bertindak secara nyata demi masa depan yang berkelanjutan.
Implementasi pendidikan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan telah diterapkan di berbagai wilayah dengan pendekatan yang relevan dan dekat dengan kehidupan siswa. Salah satu contoh inspiratif hadir dari Kabupaten Wakatobi, yang memanfaatkan keanekaragaman hayati daerahnya sebagai sumber pembelajaran melalui keberadaan Cagar Biosfer UNESCO serta Taman Nasional Wakatobi.
Bupati Wakatobi, Haliana, memaparkan bahwa peluncuran program pembelajaran bernama *Wakatobiku* menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai-nilai konservasi sejak dini kepada generasi muda. Program ini dirancang menggunakan berbagai media interaktif, seperti buku cerita, permainan edukasi, dan video animasi, yang menonjolkan kekayaan ekosistem terumbu karang, mangrove, serta kehidupan masyarakat pesisir. Haliana menegaskan pentingnya langkah ini dengan menyatakan bahwa untuk menjaga kelestarian laut, diperlukan generasi yang mencintai laut. Demikian pula, melindungi alam harus dimulai dengan menanamkan kesadaran konservasi sejak kecil.
Semangat pendidikan berkelanjutan juga tercermin dalam upaya yang dilakukan di berbagai sekolah. Nining, seorang guru dari SDN Kelapa Dua Wetan sekaligus peserta pameran praktik baik pendidikan berkelanjutan, berbagi pengalaman bahwa sekolahnya telah melaksanakan beragam program peduli lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, pengolahan sampah menjadi pupuk, pembuatan ecoenzim dan maggot, produk daur ulang, hingga pembentukan kader peduli lingkungan serta pendirian bank sampah sekolah.
Menurut Nining, program seperti Adiwiyata bukan hanya bertujuan untuk meraih penghargaan semata. Lebih dari itu, program-program ini dirancang untuk membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari kehidupan sehari-hari siswa. Dampak positifnya kini sudah mulai terlihat. Siswa menjadi terbiasa memilah sampah berdasarkan jenis, lebih hemat dalam menggunakan air dan listrik, serta memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Di tingkat sekolah sendiri, tercatat penurunan signifikan dalam volume sampah, penggunaan listrik dan air menjadi lebih efisien, serta lingkungan sekolah menjadi lebih asri dengan adanya kegiatan berkebun, beternak, dan berbagai inovasi lainnya yang produktif.

Praktik serupa diterapkan oleh SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan di Kabupaten Wakatobi di bawah kepemimpinan Adeliya Alim Sabani. Konsep pendidikan konservasi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler. Para siswa secara langsung dilibatkan dalam kegiatan seperti penanaman mangrove dan aksi bersih pantai. Sekolah juga menggalakkan kebiasaan menggunakan tumbler serta memisahkan pengelolaan sampah organik dan anorganik. Berkat upaya ini, berbagai perubahan positif mulai terlihat. Misalnya, siswa kini secara spontan memungut sampah tanpa perlu diminta. Mereka juga berhasil meraih penghargaan dalam perlombaan pendidikan konservasi yang digelar oleh Balai Taman Nasional Wakatobi, sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat melalui kegiatan konservasi tersebut.
Pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan menegaskan pentingnya generasi muda yang memiliki kesadaran, cinta, dan tanggung jawab terhadap alam sebagai landasan masa depan lingkungan dan Indonesia yang lestari.
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 499/sipers/A6/VI/202
Penulis: Uly
















Komentar