Jakarta,Nuansa Pendidikan – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah memberikan dampak besar pada dunia kerja dan industri. Situasi ini menuntut sistem pendidikan vokasional, terutama sekolah menengah kejuruan (SMK), untuk bertransformasi secara cepat dan strategis agar dapat mencetak lulusan yang siap bersaing di era industri masa depan. Rabu, 04 Februari 2026.
Penerapan AI dalam pendidikan SMK menjadi kebutuhan mendesak karena teknologi ini mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, menyempurnakan proses penilaian kompetensi, dan mengoptimalkan manajemen institusi pendidikan. Untuk itu, guna memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman terkait strategi implementasi AI dalam SMK, Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkolaborasi dengan Korea Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) untuk mengadakan Seminar Internasional bertema “Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan Teknologi dan Pelatihan Vokasi (TVET) serta Strategi Masa Depan”.
Seminar ini bertujuan memberikan wawasan baru serta pengetahuan mendalam terkait implementasi AI di bidang vokasional. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadi sarana berbagi pengalaman, kebijakan yang efektif, serta perumusan strategi masa depan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Dirjen Pendidikan Vokasi PKPLK, Tatang Muttaqin, mengapresiasi kolaborasi antara Indonesia dan KRIVET. Dalam sambutannya saat forum berlangsung, Dirjen Tatang menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri, serta memajukan inklusi sosial. Dengan integrasi AI ke dalam sistem pendidikan dan pelatihan vokasi (TVET), harapannya adalah terbentuknya sumber daya manusia yang tidak hanya terampil dan inovatif, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan serta bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi secara etis.

Mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam pendidikan dan pelatihan kejuruan kini menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi sekadar opsi. Namun, di sisi lain, penting untuk memastikan bahwa transformasi digital berjalan inklusif dan dapat diakses semua pihak. Demikian disampaikan Dirjen Tatang di Jakarta pada Selasa, 3 Februari.
Dirjen Tatang juga menjelaskan bahwa penerapan AI untuk jalur pembelajaran yang dipersonalisasi, penilaian adaptif, serta pemetaan kompetensi secara real-time mampu memperkuat kerangka pengajaran. Langkah ini akan memastikan kurikulum tetap relevan dengan dinamika kebutuhan industri global yang terus berubah dengan cepat.
Ia menegaskan bahwa lulusan pendidikan tidak hanya harus siap menghadapi dunia kerja saat ini, tetapi juga siap beradaptasi dengan tantangan ekonomi di masa depan. Seminar ini bertujuan menjadi wadah untuk berbagi dan mendiskusikan strategi dalam mengintegrasikan AI ke sistem Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Teknis dan Vokasional (TVET) di berbagai negara.
Sementara itu, perwakilan dari KRIVET, Kim Young Saing, menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta peran strategis pendidikan vokasi di tengah transformasi besar yang disebabkan oleh kemajuan AI. Kecerdasan buatan dinilai telah dan akan terus memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, industri, masyarakat, budaya, dan keluarga. Oleh sebab itu, satuan pendidikan dari berbagai negara harus merespons hal ini secara serius.
Kim Young Saing juga menyoroti bahwa esensi pendidikan tidak semata-mata tentang meraih gelar akademik, tetapi juga mencakup pengembangan keterampilan, karakter, dan kontribusi sosial. Dalam konteks ini, institusi pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum mereka, termasuk dengan mengadopsi teknologi AI, agar sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Melihat dinamika global, kerja sama antara Korea Selatan dan Indonesia dinilai sebagai peluang besar di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi yang sedang terjadi. Oleh karena itu, memperkuat sinergi yang telah dibangun menjadi semakin krusial.
Diskusi bersama ini diharapkan mampu mempererat kolaborasi guna menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya relevan tetapi juga memberikan dampak positif bagi masa depan.
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 88/sipers/A6/II/2026
Jurnalis: Ririn Ramandani
Editor : Redaksi


















Komentar