Bandung, Nuansa Pendidikan – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menyelenggarakan prosesi wisuda dengan melepas 1.793 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program sarjana sebanyak 1.292 orang (S1), magister 335 orang (S2), doktor 154 orang (S3), hingga program profesi. Para wisudawan berasal dari seluruh fakultas, Sekolah Pascasarjana, serta kampus daerah UPI, yang dilaksanakan di Gedung Gymnasium UPI di Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat, pada Minggu, 10 Mei 2026.
Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., mengungkapkan bahwa prosesi wisuda bukan hanya seremoni akademik semata, tetapi juga menjadi momen penting untuk mempersiapkan para lulusan agar dapat memberi kontribusi nyata di berbagai aspek kehidupan masyarakat.
UPI selalu berkomitmen tidak hanya menawarkan ilmu sesuai bidang studi kepada para mahasiswa, tetapi juga melengkapi mereka dengan kemampuan adaptasi, nilai integritas, kejujuran, serta membangun jejaring yang solid. Dengan bekal ini, para lulusan diharapkan mampu mencapai kesuksesan dalam berbagai profesi, baik sebagai pendidik, pengusaha, politisi, bankir, maupun peran lainnya.
Pada acara tersebut, UPI memberikan penghargaan kepada para lulusan terbaik dari setiap fakultas dan kampus daerah berdasarkan jenjang pendidikan mereka. Apresiasi diberikan kepada lulusan terbaik program S1, S2, dan S3 sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian akademik mereka sekaligus kontribusi positif selama masa studi.
Rektor juga menyoroti pentingnya dukungan alumni dalam mendukung pengembangan universitas di masa depan. Menurutnya, keterlibatan alumni berperan besar dalam memperkuat pelayanan bagi mahasiswa sekaligus meningkatkan citra dan reputasi institusi.
Ia mendorong alumni untuk tetap aktif dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan UPI. Tanpa dukungan mereka, universitas menghadapi tantangan dalam memberikan layanan pendidikan yang maksimal kepada mahasiswa.
Hal yang menjadi perhatian khusus dalam wisuda kali ini adalah hadirnya dua wisudawan penyandang disabilitas. Ini merupakan bukti konkret komitmen UPI terhadap penyediaan pendidikan tinggi yang inklusif dan setara bagi seluruh mahasiswa.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, UPI telah membentuk unit khusus yang menangani mahasiswa berkebutuhan khusus melalui Direktorat Difusi dan Inklusi. Layanan yang disediakan meliputi fasilitas pendukung seperti infrastruktur ramah disabilitas, jalur penerimaan khusus, serta pendampingan selama mengikuti pembelajaran dan kegiatan akademik.
UPI memastikan seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan dan pelayanan yang setara. Komitmen ini juga mencakup perhatian khusus kepada mahasiswa penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat menikmati hak yang setara untuk berkembang dan meraih prestasi, seperti yang ditegaskan oleh Prof. Didi.
Untuk mempersiapkan para lulusannya agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global, UPI menerapkan berbagai kebijakan yang mencakup aspek akademik dan nonakademik. Salah satu kebijakan tersebut adalah kewajiban bagi setiap mahasiswa untuk memiliki minimal dua sertifikat kompetensi, salah satunya berkaitan dengan kemampuan bahasa Inggris, serta mengumpulkan 100 poin dari aktivitas kemahasiswaan sebelum dapat mengikuti ujian akhir.
Poin ini dapat diperoleh melalui partisipasi dalam beragam kegiatan seperti kompetisi, seminar, publikasi ilmiah, program kepemimpinan, hingga pencapaian prestasi di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Melalui upaya ini, UPI berharap para lulusan tidak hanya memiliki keterampilan teknis yang mumpuni, tetapi juga soft skills yang kuat, kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja yang dinamis dan terus berkembang.
Dengan menjunjung tinggi filosofi “Leading and Outstanding University,” UPI tetap berkomitmen untuk melahirkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa serta kemanusiaan di tingkat global.
Sumber : Humas UPI
Jurnalis : Rija
Editor : Redaksi
