Bandung, Nuansa Pendidikan – Dr. Endah Irawan, M.Hum. berhasil menyelesaikan penciptaan Rebab Pamurba Indung, varian terbesar dari inovasi alat musik gesek Sunda. Karya ini melengkapi rangkaian lengkap Rebab Pamurba yang terdiri atas Pamurba Alit, Pamurba Sedeng, Pamurba Ageung, dan Pamurba Indung, masing-masing dengan ukuran, bentuk, serta karakter bunyi yang berbeda.
Inovasi ini muncul dari latar belakang pemikiran mendalam terhadap keterbatasan rebab Sunda konvensional. Selama ratusan tahun, rebab hanya hadir dalam satu bentuk dan satu wilayah nada, meski alat ini mendominasi hampir seluruh genre kesenian Sunda dan Betawi. Rebab selalu menjadi pembawa melodi utama dalam gamelan kiliningan, jaipongan, wayang golek, celempungan, tembang Cianjuran, hingga gamelan gambang kromong Betawi.
“Rebab berperan sebagai *pamurba lagu*. Ia *mayunan, nyarengan, negeskeun,* dan *mengkerkeun* lagu,” ujar Dr. Endah Irawan yang mendokumentasikan seluruh proses penciptaan secara rinci. Menurutnya, kehadiran varian ukuran berbeda akan membawa nuansa musikal baru yang lebih kaya, mirip dengan keluarga biola, cello, dan kontrabass dalam musik Barat.
Karya inovasi ini melibatkan kolaborasi empat orang. Selain Dr. Endah Irawan, turut serta Nana Pengrajin (alm), Cucu Rita Sari, M.M., serta Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sen. Kolaborasi ini penting karena sebagian besar alat musik tradisi Sunda tidak diketahui pencipta dan proses kelahirannya.
Bahan baku Rebab Pamurba Indung dipilih dengan cermat untuk menghasilkan bunyi kontrabass yang dalam dan resonan. Kerangka menggunakan kayu jeruk bali Cikoneng yang kokoh berwarna putih gading. Batok resonator dibuat dari kayu mahoni berukuran besar, wangkis dari kulit kambing yang ditipiskan, serta senar kawat kuningan tebal ukuran 0,8 hingga 0,9 milimeter.
Proses pembuatannya memadukan teknik tradisional dan modern. Pembubutan tihang, ceuli, pucuk, beuheung, serta suku dilakukan dengan mesin bubut untuk mendapatkan presisi bentuk dan ornamen khas Sunda. Batok mengalami pembobokan manual bertingkat menggunakan pahat untuk menciptakan ruang resonansi akustik yang optimal. Wangkis kulit dipasang saat masih lembab agar menegang sempurna setelah kering.
Sementara itu, pemasangan komponen lain juga dilakukan dengan teliti. Tumpang sari dari kayu jati, sisir dari kaca akrilik, ganjel spons tebal, irung-irung dari tulang sapi, serta dryer gitar digunakan untuk menjaga kestabilan nada. Pangését dibuat dengan gagang kayu jeruk dan sobrah benang nilon berjumlah seribu helai untuk menghasilkan gesekan yang halus.
Inovasi ini melanjutkan semangat penyempurnaan yang pernah dilakukan Maman Suryaman pada era 1950-an. Saat itu konstruksi rebab disempurnakan agar lebih praktis, termasuk posisi pangkal kawat dan penggunaan dryer. Dr. Endah Irawan membawa inovasi lebih jauh dengan menciptakan variasi ukuran tanpa meninggalkan ciri khas rebab Sunda.
Akan tetapi, makna terdalam dari Rebab Pamurba terletak pada potensi musikalnya. Komposer Sunda, komposer Betawi, maupun komposer Barat kini memiliki ruang lebih luas untuk menciptakan garapan baru. Ansambel gambang kromong Betawi dapat menghadirkan nuansa yang lebih kaya, sementara pertunjukan gamelan Sunda mendapat kekuatan melodi yang lebih berlapis.
Di sisi lain, inovasi ini juga memperkaya pengetahuan organologi dan teknik permainan karawitan Sunda. Setiap varian memiliki teknik penjarian, penyetelan, serta karakter bunyi tersendiri yang tetap selaras dengan laras salendro, pelog, dan madenda. Hal ini membuka peluang pendidikan seni yang lebih lengkap bagi generasi muda.
Oleh sebab itu, Rebab Pamurba Indung menjadi tonggak penting dalam pengembangan musik tradisi. Karya ini tidak hanya menambah perbendaharaan alat musik, melainkan juga membuka pintu kreasi baru yang dapat menarik minat masyarakat lokal, nasional, hingga internasional.
Keberhasilan inovasi Dr. Endah Irawan menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan warisan lama. Pengembangan kreatif seperti ini diperlukan agar musik Sunda dan Betawi tetap hidup, berkembang, dan relevan di zaman sekarang.
Jurnalis : Yoyo S
Editor : Redaksi
