Jakarta,Nuansa Pendidikan – Indonesia, melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), berupaya memperkuat kolaborasi global guna mendorong transformasi industri peternakan yang berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation, yang berlangsung di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada tanggal 27-28 Maret 2026.
Forum ini menjadi wadah strategis untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan, seperti ilmuwan, pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan mitra internasional, dalam merumuskan strategi transformasi sektor peternakan agar lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., turut hadir dan berinteraksi dengan berbagai pihak dalam acara tersebut. Di antara mereka, terdapat Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., serta Assistant Director-General dan Chief Veterinarian sekaligus Director of the Animal Production and Health Division FAO, Thanawat Tiensin. Diskusi dalam kesempatan ini menyoroti transformasi dalam sektor peternakan.
Dalam kegiatan tersebut, Rektor ITB didampingi oleh sejumlah dosen dari berbagai fakultas. Mereka adalah Acep Purqon, S.Si., M.Si., Ph.D. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/FMIPA), Prof. Dr.rer.nat. apt. Sophi Damayanti, S.Si., M.Si. (Sekolah Farmasi/SF), Anriansyah Renggaman, M.Sc., Ph.D. (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati/SITH), serta Ir. Neil Priharto, S.Si., M.T., Ph.D. (SITH).
Sektor peternakan memegang peran strategis dalam sistem agripangan global. Selain menjadi penopang utama pasokan protein dunia, sektor ini juga menjadi mata pencaharian bagi jutaan orang. Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya menggunakan pendekatan ilmiah untuk mentransformasi sektor peternakan dalam menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim, penggunaan sumber daya secara efisien, ketahanan pangan, dan peningkatan kebutuhan akan produksi protein hewani. Dengan pendekatan berbasis penelitian, diharapkan dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas serta mendukung keberlanjutan sistem agripangan.
Hal senada disampaikan oleh Thanawat Tiensin, yang menekankan perlunya penguatan kerja sama global dalam mewujudkan peternakan yang berkelanjutan. Keterlibatan FAO menegaskan bahwa transformasi sektor ini membutuhkan kolaborasi internasional, termasuk dalam pengembangan panduan berbasis ilmu pengetahuan, penguatan kapasitas di tingkat regional, serta harmonisasi kebijakan di antara berbagai pemangku kepentingan.
Forum ini dihadiri oleh lebih dari 470 peserta dari 33 negara, mencerminkan bahwa isu peternakan berkelanjutan menjadi bagian penting dari upaya global dalam menciptakan sistem pangan masa depan yang lebih adaptif dan ramah lingkungan.
Sumber : Humas ITB
Editor : Redaksi
