Institut Teknologi Bandung (ITB) Terima 8.945 Mahasiswa Baru

Jadilah Generasi yang Bermanfaat Bagi Zaman

Bandung,Nuansa Pendidikan || Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan Sidang Terbuka untuk Penerimaan Mahasiswa Baru Semester I Tahun Akademik 2026/2027 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB pada hari Rabu, 5 Agustus 2026.

Dalam sambutannya, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyambut hangat semua mahasiswa baru yang datang dari berbagai wilayah, budaya, bahasa, dan latar belakang kehidupan.

Ia menekankan bahwa diterima di ITB bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi merupakan awal perjalanan untuk mengembangkan kemampuan intelektual, membentuk karakter, menemukan identitas diri, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Diterima di ITB adalah permulaan, bukan garis akhir, tambahnya.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.

Rektor mengimbau mahasiswa baru untuk memikirkan warisan apa yang bisa mereka tinggalkan setelah menyelesaikan pendidikan di ITB. Warisan ini bukan hanya berupa ijazah atau nilai akademik, tetapi bisa berupa gagasan, penemuan, karya, atau pengabdian yang dapat memperbaiki kehidupan orang lain.

Ia menambahkan bahwa sejak dibentuk sebagai Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 3 Juli 1920, ITB tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan, tetapi juga mencetak individu-individu yang bisa memberikan arti bagi zamannya.

Pesan tersebut tercermin dalam perjalanan para tokoh yang diabadikan di Museum ITB, seperti Ir. Soekarno, Prof. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. Djuanda Kartawidjaja, Prof. Iskandar Alisyahbana, Prof. Subagyo, dan Dr. (H.C.) Nyoman Nuarta. Mereka dihargai bukan hanya karena kepintarannya, tetapi karena karya dan dedikasi mereka yang memberikan manfaat bagi bangsa.

Rektor juga mendorong mahasiswa baru untuk berani belajar, bertanya, mencoba hal baru, menghadapi kegagalan, dan bermimpi besar.

Setiap sejarah besar selalu dimulai oleh seseorang yang memutuskan untuk membuat hidupnya bermanfaat bagi orang lain sepanjang masa, ujarnya.

Pada Semester I Tahun Akademik 2026/2027, ITB menerima 8.945 mahasiswa baru. Jumlah ini mencakup 5.468 mahasiswa program sarjana, 1.947 mahasiswa program magister, 563 mahasiswa program doktor, dan 967 mahasiswa program profesi. Informasi ini disampaikan dalam laporan penerimaan mahasiswa baru oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.

Untuk angkatan 2026, mahasiswa baru program sarjana ITB berasal dari seluruh 38 provinsi di Indonesia. ITB juga menerima 97 mahasiswa dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta 10 mahasiswa melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Para mahasiswa ini antara lain berasal dari Kepulauan Riau, Riau, Aceh, Maluku, Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan.

Sebanyak 28 mahasiswa lainnya adalah penerima Beasiswa Garuda. Berdasarkan data Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), ada 446 mahasiswa yang tercatat, dengan 198 di antaranya berada dalam kelompok desil 1–4.

Melihat komposisi gender, jumlah mahasiswa laki-laki masih mendominasi di program sarjana, magister, dan doktor. Di program sarjana, mahasiswa laki-laki memiliki persentase 57,7%, sementara mahasiswa perempuan 43,3%. Untuk program magister, mahasiswa laki-laki mencapai 53,7% dan perempuan 46,3%. Di sisi lain, pada tingkat doktor, mahasiswa laki-laki menyumbang 53% dari total, sedangkan mahasiswa perempuan sebanyak 47%.

Keragaman mahasiswa baru juga tercermin dari kehadiran mahasiswa asing. Pada program sarjana, mahasiswa tersebut berasal dari 21 negara, antara lain Afghanistan, Amerika Serikat, Angola, Bangladesh, China, India, Kenya, Madagaskar, Malawi, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Papua Nugini, Sierra Leone, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, Tajikistan, Tanzania, Timor-Leste, dan Yaman.

Di sisi lain, mahasiswa asing pada program pascasarjana berasal dari 20 negara, termasuk Afghanistan, Bangladesh, Chile, Mesir, Ghana, Kenya, Malawi, Nigeria, Pakistan, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Kepulauan Solomon, Somalia, Korea Selatan, Tanzania, Timor-Leste, Vietnam, Yaman, dan Zimbabwe. Sebagian dari mereka diterima melalui Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang dan The Indonesian Aid Scholarship.

Pada tahun ini, ITB turut menerima mahasiswa internasional untuk program sarjana reguler dan pertukaran. Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Afganistan, Amerika Serikat, Angola, Bangladesh, China, India, Kenya, Madagaskar, Malawi, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Papua Nugini, Rwanda, Sierra Leone, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, Tajikistan, Tanzania, Timor-Leste, dan Yaman.

Selain itu, acara ini juga menampilkan orasi ilmiah yang disampaikan oleh dosen dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, Muhammad Yorga Permana, S.T., M.Sc., Ph.D., dengan judul “Teknologi Berganti, Manusia Harus Terus Bertumbuh”.

Selain itu, terdapat juga orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Eng. Kamarisima, S.Si., M.Si., seorang dosen dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Orasi tersebut mengusung tema “Fermentasi Kakao: Rahasia di Balik Kenikmatan Cokelat”.

 

Sumber : Humas ITB

Editor : Redaksi